1. Nama: Utari Nadia Pramesti (D1E023002)
JuduL Narasi:
Dari Kopi ke Wedang: Tren Minuman Rempah Mulai Digandrungi Gen Z
Narasi:
Dulu ngopi biar melek,
sekarang mulai suka wedang biar lebih hangat — bukan cuma badan, tapi juga pikiran. 🌿🫖
Ternyata, gaya hidup anak muda sekarang bukan cuma soal estetik, tapi juga mulai peduli sama kesehatan.
Dari jahe, kunyit, sampai sereh… semuanya punya cerita dan manfaatnya sendiri. 🤎
Tautan Media Sosial:
Instagram: https://www.instagram.com/reel/DYmxVPlSiiq/?igsh=MW4wNGM2cGtub3Ay
tiktok : https://vt.tiktok.com/ZSxD2kNXB/
X : https://x.com/youthifylab/status/2057496101155160416?s=4
2. Nama : Syafira Renata (D1E023052)
Judul Narasi:
Inside Out of Beauty : Cantik Dimulai Dari Perasaan
Cantik itu bukan hanya tentang apa yang terlihat, tapi tentang apa yang dirasakan.
Dari cara kita menerima diri sendiri, menghargai proses, hingga berani berdamai dengan kekurangan—semua itu adalah bagian dari “inside out beauty”.
Saat hati tenang dan pikiran positif, aura cantik itu akan terpancar dengan sendirinya. Karena pada akhirnya, perasaan yang baik akan membentuk cara kita melihat diri sendiri, dan dunia pun akan melihat kita dengan cara yang sama. Jadi, mulai hari ini, rawat perasaanmu.
Karena cantik… dimulai dari dalam.
Tiktok: https://vt.tiktok.com/ZSxAobqBM/
Instagram : https://www.instagram.com/p/DYmgiuUyx5N/?igsh=MTJjOWZ5OWU1b293
X : https://x.com/youthifylab/status/2057472116652700106?s=46
3. Nama: Ningrum Widya Rianti (D1E023058)
Judul Narasi:
Coachella 2026: Saat Tampil Bisa Jadi Paling Juara
Narasi:
Coachella selalu identik dengan penampilan yang berani dan penuh warna. Tapi tahun ini, ada momen yang cukup menarik untuk dicermati — Kendall Jenner hadir dengan tampilan yang jauh lebih sederhana dari ekspektasi banyak orang, dan justru itu yang banyak diperbincangkan.
_
Mungkin ini cerminan dari bagaimana selera fashion terus bergeser. Bahwa tampil menarik tidak selalu soal seberapa banyak yang dipakai, tapi soal seberapa dalam seseorang memahami gaya mereka sendiri.
—
Kesederhanaan yang disengaja punya caranya sendiri untuk berbicara. Dan Coachella 2026 membuktikan bahwa perhatian tidak selalu datang dari yang paling ramai — kadang justru dari yang paling tenang.
Tautan Media Sosial:
Instagram: https://www.instagram.com/reel/DYmgQ3vSzfm/?igsh=eWNueDhmMjluMmlj
Tiktok: https://vt.tiktok.com/ZSxDr3QPY
X: https://x.com/youthifylab/status/2057471650141270306?s=46
4. Luthfiah Rossa (D1E023060)
Judul Narasi:
Gemas Maksimal! Ubah Tas Boring Jadi Personal Playground Dengan Bag Charms
Narasi:
Gemas Maksimal! Ubah Tas Boring Jadi ‘Personal Playground’ dengan Bag Charms.”
✨ Tas bukan cuma tempat simpan barang — sekarang jadi media buat nunjukin personality!
Dari gantungan lucu, karakter favorit, sampai charms estetik, semua bisa bikin tas boring jadi makin hidup dan super gemas. 🎀🧸💫
Yuk, ubah tasmu jadi personal playground yang unik dan penuh cerita!
Tautan Media Sosial:
Instagram: https://www.instagram.com/reel/DYm2v_myQ8Q/?igsh=MWFxbnZjazBwcWRuYg==
Tiktok: https://vt.tiktok.com/ZSxDrUfXA
X: https://x.com/youthifylab/status/2057493354661945410?s=46
5. Nama : Marisa Dwi Putri (D1E023062)
Judul Narasi:
Bukan Sekadar Tren: Mengapa Anak Muda Kembali Jatuh Cinta pada Wastra di 2026?
Narasi:
Dari kelas desain hingga jalanan Yogyakarta dan Jakarta, motif batik kontemporer dan tenun kini mendominasi streetwear Gen Z. Bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai identitas.
The Renaissance: Seni Lokal Masuk ke DNA Streetwear
Istilah renaissance dipilih bukan tanpa alasan. Berbeda dari gelombang popularitas batik di era 2010-an yang lebih bersifat formal dan seremonial, kebangkitan wastra kali ini terjadi di ranah yang sama sekali berbeda yaitu streetwear. Sebuah subkultur fashion yang lahir dari skateboarding, hip-hop, dan urban youth culture.
Yang menarik, transisi ini tidak dipimpin oleh merek besar atau kampanye pemerintah. Justru sebaliknya, ia tumbuh alami dari komunitas kecil pembuat konten, pengrajin muda, dan label independen yang menemukan cara baru untuk “berbicara” lewat kain.
Motif kawung yang selama ini identik dengan kebaya kini muncul di tote bag dan topi bucket. Ulos Batak yang sarat makna adat diinterpretasi ulang menjadi bahan jaket bomber edisi terbatas. Lurik Jawa yang sederhana namun kuat dipadukan dengan celana cargo teknikal ala gorpcore.
Tautan Media Sosial:
Instagram: https://www.instagram.com/reel/DYmppjRSZCe/?igsh=d2o4aXZlZG9veTEw
Tiktok: https://vt.tiktok.com/ZSxDJ2mmC/
X: https://x.com/i/status/2057472595906457893
6. Nama : Hanif Alfjri (D1E023026)
Judul Narasi:
RADAR HOTSPOT : Menolak Lupa Gigs “FISIP Underground 1997” di Balai Buntar.
Narasi:
BENGKULU — Jauh sebelum era digital memudahkan perizinan acara lewat email dan promosi via story Instagram, skena musik bawah tanah (underground) di Bengkulu pernah mencatat sejarah emas yang digerakkan secara manual. Pada tahun 1997, sekelompok mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) lintas angkatan, termasuk anak-anak pecinta alam Palasostik, menginisiasi sebuah pergerakan besar bernama “Bengkulu Underground United”.
Gerakan ini lahir dari keresahan minimnya ruang bagi anak band lokal saat itu. “Waktu itu jarang ada gigs untuk anak band, yang ada cuma festival band seminggu sekali, itu pun kadang setahun sekali,” kenang Ego, salah satu inisiator acara tersebut saat diwawancarai.
Dipelopori oleh Ego dan rekan sekelasnya, Edi (drummer Jahanam Band), mereka memutuskan membuat gigs alternatif. Aturannya berbeda total dari festival arus utama: band bebas membawakan lagu sendiri, bebas cover lagu sesuai genre, bahkan ada yang tampil instrumental tanpa terikat lagu wajib.
Sebanyak 10 band dengan berbagai warna musik cadas berhasil dikumpulkan, mulai dari MAP (Hard Rock), Jahanam (Black Metal), Balon Tiup dan Pacat (Alternative), hingga Wimafiska (Speed Metal) serta beberapa band Thrash Metal lainnya.
Panggung bersejarah itu akhirnya digelar di Balai Buntar. Mengingat internet dan media sosial belum lahir, promosi dilakukan secara militan. Ego dan kawan-kawan berkeliling Kota Bengkulu, mulai dari area Kampung hingga Pagar Dewa, demi menempel pamflet acara secara manual di fasilitas publik.
Strategi tersebut berbuah manis. Dengan modal tiket seharga Rp500 hingga Rp750—yang menariknya sudah termasuk bonus satu pak rokok Sampoerna Mild kecil sebagai sponsor utama— Balai Buntar pecah. Animo masyarakat dan mahasiswa luar biasa hingga memenuhi tribun atas dan bawah. Beruntung, meski musik yang disajikan bertempo cepat dan keras, aparat kepolisian yang berjaga mengawal acara hingga selesai tanpa ada kerusuhan tunggal.
Namun, kejayaan itu harus terhenti prematur. Rencana untuk menggelar volume kedua terpaksa kandas akibat hantaman badai Krisis Moneter (Krismon) 1997 yang memuncak pada kerusuhan Mei 1998. Larangan kegiatan keramaian dari aparat membuat regenerasi gigs ini sempat mati suri sebelum akhirnya perlahan bangkit kembali di era 2000-an
Tautan Media Sosial:
Instagram: https://www.instagram.com/reel/DYmwOo5SI2v/?igsh=MXV4MTl1ajF2NjBqaA==
Tiktok: https://www.tiktok.com/@youthify.lab?_r=1&_t=ZS-96YFjvcmhzY
X: https://x.com/i/status/2057483150956417170
7. Ariel Darma Yendi (D1E023080)
Judul Narasi:
HAL BARU UNTUK HARI YANG BARU: Art, Lifestyel , dan Musik
Narasi:
Youthify.Lab, platform digital yang menghadirkan konten segar, relevan, dan inspiratif untuk generasi muda.
Youthify.Lab fokus pada konten kuliner, wisata, travel experience, dan gaya hidup anak muda masa kini dengan gaya penyampaian yang santai dan relate.
Kami hadir di berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan X atau Twitter untuk membangun komunitas anak muda yang aktif, kreatif, dan update terhadap tren terbaru.
Melalui konten visual, video singkat, hingga diskusi interaktif, Youthify.Lab ingin menjadi ruang inspirasi sekaligus sumber informasi terpercaya bagi Gen Z dan Alpha.
“Youthify.Lab, suara anak muda, tren masa kini.”
Tautan Media Sosial:
Instagram: https://www.instagram.com/reel/DYmhOWxycT_/?igsh=MW05eDc4b29oMjVvdA==
Tiktok: https://vt.tiktok.com/ZSxD1mc5L
X: https://x.com/i/status/2057464837010276586
8. Muhammad Fauzan (D1E023038)
Judul Narasi:
Tren outfit minimalis ala Gen Z makin digemari di media sosial
Narasi:
Tren outfit minimalis ala Gen Z kini semakin populer dan ramai diperbincangkan di media sosial. Gaya berpakaian yang mengusung konsep sederhana namun tetap stylish ini menjadi pilihan banyak anak muda karena dianggap nyaman dan mudah digunakan untuk berbagai aktivitas sehari-hari.
Konten mengenai mix and match outfit minimalis pun terus bermunculan di platform seperti Instagram dan TikTok. Warna-warna netral seperti putih, hitam, abu-abu, hingga beige menjadi ciri khas utama dari tren fashion ini. Selain mudah dipadukan, gaya minimalis juga dinilai mampu memberikan kesan modern, rapi, dan elegan.
Tidak hanya mengikuti tren semata, gaya berpakaian minimalis juga mencerminkan pola hidup praktis yang kini banyak diterapkan oleh generasi muda. Banyak Gen Z mulai memilih pakaian yang simpel tetapi tetap fashionable dibandingkan busana dengan desain yang terlalu ramai.
Popularitas tren ini juga didukung oleh para fashion influencer yang rutin membagikan konten outfit of the day atau OOTD di media sosial. Melihat tingginya minat pasar, berbagai brand lokal pun mulai menghadirkan koleksi pakaian bergaya minimalis untuk memenuhi kebutuhan anak muda masa kini.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tren fashion Gen Z saat ini tidak hanya berfokus pada kemewahan, tetapi juga lebih mengutamakan kenyamanan, kesederhanaan, dan ekspresi diri. Dengan perkembangan media sosial yang terus meningkat, outfit minimalis diprediksi masih akan menjadi salah satu tren favorit di kalangan anak muda dalam waktu dekat.
Tautan Media Sosial:
Instagram: https://www.instagram.com/reel/DYm34xJScl6/?igsh=OXhlb21xcTlkNTEw
Tiktok: https://vt.tiktok.com/ZSxDrFAAd
Leave a Reply